Korelasi antara Negara dan Agama sudah menjadi perdebatan klise di negeri ini. Tengok saja masalah Ahmadiyah, RUU Pornografi, Perda Syariah, yang telah menyeret bebapa tokoh dalam masalah lingkaran setan yang tak berkesudahan. Bukan hanya masalah adu pendapat saja, tapi sudah melibatkan penggerakan massa, yang ujungnya adalah perusakan. Bahkan sempat terdengar isu mengenai pendirian Negara Islam di Nusantara. Padahal pangkal dari masalah ini ialah ketidaksinkronan dalam memandang korelasi Negara dan agama.
Pertanyaan yang sering menggelitik dalam permasalahan ini ialah, sejauh mana Negara terlibat dalam urusan keagmaaan? Secara teoritis jawaban pertanyaan ini dapat kita temukan di UUD 1945 pasal 29,
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut  agamanya dan kepercayaannya itu.
Makna pentingnya ialah Indonesia tidak menganut doktrin pemisahan antara agama dan Negara. Nilai-nilai moralitas yang terkandung dalam agama HARUS menjadi tiang terpenting dalam pendirian Negara Indonesia, yang berkonsekuensi terlibatnya Negara dalam beberapa urusan keagaman. Misalnya saja kehadiran Departemen Agama yang mengurusi nikah, cerai, dan waris.
Kehadiran Negara menjadi salah syarat kesempurnaan pelaksanaa ibadah, tak pernahkah terngiang di benak kalian keterlibatan Negara dalam pelaksanaan rukum islam ke 5? Kunjungan ke tanah suci tentu membutuhkan visa yang dikeluarkan Negara. Tanpa kehadiran Negara, hil yang mustahal melaksanakan ibadah haji dalam jumlah yang banyak. Kemudian masalah zakat, pemerintah dapat berfungsi sebagai Pembina dan pengawas dalam penyaluran zakat.
Esensi masalahnya jelas, Negara harusnya tidak memasuki wilayah ritual yang menjadi hubungan vertikal warna Negara dengan Tuhannya. Domain Negara ialah menjamin agar pelaksanaan ibadah dapat berlangsung aman tanpa gangguan. Namun ingat, Negara tidak bisa mencantunmkan konsiderans Al-Quran dalam keputusan. Sebagai contoh dalam pentuntasan maslaah prostitusi-lokalisasi, seorang kepala daerah tidak bisa memusnahkan prostitusi dengan mengatasnamakan ayat suci Al-Quran. Karena Indonesia tidak menganut agama tertentu. Hal ini lah yang kurang dipahami masyarakat. Seharusnya yang dilakukan ialah, membawa permasalahan ini dan menjadikannya “buah bibir” di ruang publik, sehingga lokalisasi dianggap hal yang mengganggu ketertiban dalam kehidupan masyarakat.
Perwujudan formalitas Islam di pemerintahan tidak manjamin keimanan yang sempurna. Perjuangan dakwah semestinya mengutamakan dimensi substansial, bukan formalitas. Mulai sekarang, cobalah transformasikan nilai-nilai keagaman dalam bahasa yang operasional. Terjemahkan memberantas kemaksiatan manjadi mewujudkan ketertiban umum, sodakoh dan infaq menjadi memberantas kemiskinan.
Polemik seperti diatas, mengingatkan perkataan kakek saya, “Terserah, mau pilih abon babi cap sapi, atau abon sapi cap babi.”

Daftar Pustaka :
Said, Ali As’ad. 2009. Negara Pancasila, Jalan Kemaslahatan Berbangsa. Penerbit Pustka LP3ES Indonesia. Jakarta

Kata bencana alam sepertinya enggan lepas dari Negara kita. Rentannya Indonesia terhadap bencana alam diakibatkan letaknya yang secara geografis berada di pertemuan tiga lempeng bumi, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Pergerakan ketiga lempeng dapat memicu terakmulusainya engergi yang sangat dahsyat, seperti gempa bumi dan tsunami. Tentu masih segar diingatan kita bencana maha dahsyat di Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan sekitar 173.741 jiwa, dan memaksa 394.539 lainnya mengungsi (Data: Bakornas PBP – Depkes – Depsos -Media Center Lembaga Informasi Nasional). Bukan sekedar kerugian material, namun juga nyawa.

Bencana di Indonesia bukan hanya dipicu oleh fenomena alam semata, namun juga adanya ledakan penduduk. Bencana ini tak kalah dahsyat, karena hampir berdampak pada semua aspek kehidupan. Misalnya saja menjadi pemicu degradasi lingkungan dan pergeseran eksosistem akibat semakin padatnya prodek residu manusia.

Besarnya dampak yang disebabkan bencana alam tersebut harusnya mendorong kita semua untuk berbuat untuk mengurangi risiko atau bahkan mencegahnya. Untuk masalah fenomena alam kita hanya sebatas mengurangi risiko saja, namun untuk bencana alam yang dipicu manusia kita dapat mencegahnya. Perlu di ingat bahwa tindakan ini bersifat preventif, jadi  dilakukan jauh hari sebelum kegiatan bencana, dan hendaknya disertai prediksi magnitude dan intensitas berdasarkan pengamatan yang presisi dan akurat gejala bencana awal. Untuk memperoleh tindakan yang optimal, kegiatan ini harus dilakukan secara berkala dan bertahap. Tujuan utama dari mitigasi bencana ini ialah mengurangi resiko (korban, ekonomi, social) yang ditimbulkan oleh bencana khususnya, sebagai dasar untuk perencanaan pembangunan, meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi serta mengurangi resiko bencana.

Pelaksanaan mitigasi bencana geologi di Indonesia sebenarnya sudah terlaksana, hal ini terbukti cukup siaganya pemerintah saat terjadinya letusan Gunung Merapi kemarin. Untuk terus memantau kegiatan vulkanisme Merapi, pemerintah menyiapkan 5 Pos Pengamatan Gunungapi yang mengelilingi G. Merapi dan dilengkapi beberapa peralatan standard antara lain seperangkat seismograf. Bahkan Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menerbitkan Peta Daerah Bahaya. Agar masyarakat bisa memahami zona aman untuk menyelamatkan diri, serta sebagai patokan kegiatan represif selanjutnya.

Dalam dunia internasioanl, kegiatan mitigasi bencana geologi ini juga telah lama digalakkan, salah satunya melalui Hyugo Framwork For Action, yang secara ringkas bertujuan membantu para korban bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami, mengurangi resiko bencana sehingga dapat mendukung pembangunan berkelanjutan, mengidentifikasi dan mengawasi resiko bencana, serta mengembangkan sistem peringatan dini, memasukkan risiko bencana dalam kebijakan, perencanaan dan program-program pembangunan berkelanjutan secara terpadu dan efektif.

Kegiatan ini harusnya juga melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pelaksanaanya, sangat sulit sepertinya jika mitigasi bencana geologi hanya dilakukan secara sentralistik oleh pemerintah. Perlahan kita ubah mind set masyarakat yang cenderung tiba masa tiba akal menjadi lebih terencana, sehingga masyarakat tidak cenderung bergantung pada upaya pemerintah saja.

Jogja, 11 November 2011

Pancasila dan Islam

Posted: November 13, 2011 in Inspirasi

Makin gencarnya kerusuhan di Bangsa ini yang mengatasnamakan agama sangat memojokkan posisi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Banyak anak bangsa mengkritisi kelayakan Pancasila. Saat terjadi krisis mutidimensi Pancasila dijadikan sebagai kambing hitam. Menurut sebagian dari mereka yang mampu mengangkat kembali bangsa ini adalah reformasi besar-besaran, termasuk mengubah Pancasila menjadi ideologi yang lebih kapitalis atau liberalis. Bahkan diantaranya ada yang berani mengatakan bahwa Syariat Islam lebih cocok untuk Nusantara.

Jika kita tengok kebelakang para founding father kita telah benar-benar memilihkan ideologi yang paling cocok untuk bangsa ini, menjadikan Indonesia sebagai negera modern dengan nuansa religi. Mereka mampu menepikan pengaruh pemikiran Barat yang dibawa para kolonial. Ingatlah perumusan Pancasila ini bukan hanya dilakukan oleh kaum nasionalis, tapi juga terdapat beberapa muslim negarawan layaknya Ki Bagoes Hadikoesoemo (Tokoh Masyumi), H. Agus Salim (pendiri Partai Penyadar), Abikoesno Tjokrosoejoso (Tokoh Partai Syarikat Islam Indonesia), Abdul Kahar Moezakir (Pimpinan Muhammadiyah), K.H Abdul Wachid Hasjim (Tokoh NU), K.H Mas Mansoer (Tokoh Muhammadiyah), H. Ahmad Sanusi, K.H Abdul Halim, K.H Masjkoer, dan seorang Muslim lainnya sebagai anggota tambahan, yaitu: K.H Abdul Fatah Hasan. Sepuluh tokoh Muslim ini berperan penting dalam mematangkan perumusan Pancasila dan rancangan pembukaan UUD. Langkah dahsyat para tokoh itu merupakan modal berharga bangsa ini, yang saat itu tengah dirundung keraguan antara negara sekuler atau negara agama.

Seorang tokoh Arab Saudi pernah berucap bahwa negaranya menggunakan Al-Quran dan Hadis sebagai landasan bernegara karena seluruh warganya muslim. Sedangkan Indonesia yang multiagama menggunakan Pancasila sebagai landasan bernegara adalah tepat dan tidak bertentangan dengan Islam itu sendiri. Bahkan negara arab lainnya yakni Yaman, menjadikan Pancasila dan UUD sebagai pembanding dasar negera mereka walaupun hampir seratus persen penduduknya adalah muslim.

Memaksakan Islam kepada semua penduduk Indonesia sudah tentu menyalahi watak toleransi Islam, tidak ada paksaan dalam agama, lakum diinukum waliyadiin. Mewujudkan persatuan dengan peleburan sepetinya bukanlah solusi terbaik di negara ini. Dan jika kita cerna lebih lanjut esensi Pancasila mengenai ketauhidan, humanisme, gotong royong, kebersamaan, dan keadilan sangat sesuai dengan Islam. Tidak ada pertentangan diantara keduanya. Hendaknya Pancasila harus di pahami oleh semua subjek di Indonesia, hingga eksistensinya bisa dijelaskan semua pihak yang merasa menjadi Putra-Putri Bangsa Indonesia.
Camkanlah perkataan dari KH. Abdurrahman Wahid ini kawan, jangan anggap Pancasila itu sebagai agama, karena memang tidak bisa menggantikan agama, dan tidak dimaksudkan mengganti agama.

Jogja, 13 November 2011

Problema pelik pengangguran sarjana di atas negeri dengan potensi luar biasa memang sangat mengkhawatirkan. Banyak orang yang bingung mencari pekerjaan di negeri ini, seolah lapangan pekerjaan sangat terbatas dan hanya tersedia bagi para lulusan sarjana. Sebenanya fenomena ini bisa dihindari, jika sejak kecil mereka di biasakan untuk merencanakan pilihan hidup untuk masa depannya.

Seharusnya masing-masing individu di negeri ini memilih bidang pekerjaan  sesuai minat, bakat dan potensi mereka. Tak jarang kita jumpai ada seoarang pegawai yang berpindah pekerjaan dari satu bidang ke bidang yang lain karena merasa kurang cocok, hal ini terjadi akibat tidak adanya sinergis antara minatnya dan pekerjaannya. Coba kita tengok negera-negara di Eropa sana, yang menentukan kelayakan siswa masuk di perguruan tinggi adalah Negara. Penilaian bukan hanya di dasarkan pada akademis saja, namun bidang non akademis akan menuntun mereka unruk masuk di sekolah kejuruan ataupun Politeknik sesuai minatnya. Rasanya hal ini kontras dengan yang terjadi negeri ini, tiap tahun jutaan siswa berebut kursi perguruan tinggi demi predikat kesarjanaan. Seringkali tanpa kesadaran jurusan apa yang hendak di tekuni, yang penting universitas yang dimasuki memiliki nama yang besar.

Ada baiknya jika kita mengasistensi orang-orang disekeliling kita untuk mengenal betapa banyaknya pilihan pekerjaan, profesi, dan pilihan hidup di negeri ini. Pilihan pekerjaan demikian variasi karena potensi alam Indonesia yang demikian kayanya. Dan pilihan pekerjaan akan semakin banyak seiring perkembangan teknologi. Persoalannya adalah mengenai kemauan untuk bertindak.

Niscaya kita akan menemukan jumlah pekerjaan yang tak terhingga di negeri kaya ini, di bidang pertanian saja misalnya, kita dapat menjadi petani dengan pilihan tanaman pangan, sayuran, ataupun buah-buahan. Jenis tanaman pangan sendiri nantinya akan dibedakan menjadi beras, singkong, jagung, ataupun kedelai. Bahkan ketika kita telah menentukan bertanam jagung kita harus menentukan apakah nantinya jagung itu dikonsumsi untuk manusia ataupun pakan ternak.

Masih berpikir sulit mencari pekerjaan?

“Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,” (QS Az Zumar, 39:39)

Jogja, 12 November 2011

Berkenalan dengan Diri Sendiri

Posted: November 12, 2011 in Inspirasi

Keahlian dasar yang dimiliki manusia ialah untuk melakukan evaluasi diri, bercermin pada diri sendiri terhadap apa yang telah ia kerjakan selama ini. Mulailah berpikir tentang siapa diri kita? Dari manakah kita? Apa tujuan atas penciptaan kita semua? Dan apa hasil karya kita yang dapat kita turunkan bagi generasi selanjutnya? Pertanyaan tersebut akan sedikit memotivasi kita untuk mulai berpikir positif dan menghasilkan ide yang positif pula. Ingatlah, bahwa segala kesuksesan berawal dari keyakinan diri. Jika kita yakin akan sukses, maka seluruh fokus dan energi kita akan tertuju pada hal yang mampu mewujudkan kesuksesan tersebut.

Ingatkah kalian ketika masih kanak-kanak? Kita mengikat selimut di punggung dan kita sukses menjadi superman, kita menaiki sapu dan sukses menjadi penyihir, kita panjat pohon meski ada resiko terjatuh, namun kita tetap memanjatnya karena kita yakin kita pasti sukses menaklukkannya. Namun apakah keyakinan akan sukses datang ketika kita masih kanak-kanak? Renungkanlah…
Dengan melakukan flashback kemasa lalu, kita akan lebih tahu diri kita, dimana posisi kita sekarang, dan kemudian bersiap merancang masa depan yang kita impikan.

Disamping itu, evaluasi ini menjadi salah satu cara membentuk konsep diri, yang mencakup pandangan kita terhadap diri kita sendiri, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun moral. Persepsi tersebut dapat berupa impian yang akan dilaksanakan maupun dalam keadaan sebenarnya. Aspek fisik yang dipersepsi mencakup penilaian sosial dalam masyarakat. Sementara aspek moral mencakup nilai dan prinsip yang menjadi landasan kehidupan kita.

Jogja, 12 November 2011

Budaya “Nongkrong”

Posted: November 12, 2011 in Inspirasi
Tags: , , ,

Budaya ini memang sangat lekat di lapisan masyarakat kita, tak peduli di desa maupun di kota. Pemandangan segerombolan pemuda yang duduk di pinggir jalan maupun pertokoan sudah menjadi hal yang lazim sejakarang. Sangat ironis memang, seakan-akan tidak ada kegiatan yang lebih bermanfaat. Remaja yang seharusnya menjadi tonggak kebangkitan bangsa ini, justru bermalas-malasan. Bagaimana bisa mendirikan bangunan yang kokoh jika tiangnya lapuk?

Bandingkanlah dengan negara yang lebih dulu maju, para remaja di sana getol mengasah kemampuan mereka. Di pagi buta meraka kerja paruh waktu mengantar koran, kemudian lanjut bersekolah, sore harinya pergi ke perpustakaan, les musik, les tari, maupun berolahraga. Budaya “nongkrong” ini bukan berarti tidak ada sama sekali di sana, namun tidak separah di Indonesia.

Tak pernahakah remaja kita berpikir, bagaiamana seorang Mark Zuckerberg mampu merancang dan mendirikan Facebook di usia 24 tahun? Mengapa Blake Ross dan David Hyatt di usia 23 tahun dapat mendirikan Mozilla? Mengapa tiap hari di Amerika ribuan orang berbondong-bondong mendaftarkan hak paten atas ide kraetifnya? Dan mengapa ramaja kita hanya mampu mambaca kisah sukses orang lain? Bukan melangkah dan membuat jekak kesuksesan mereka sendiri.

Ternyata ini semua akibat kurangnya para remaja kita mengenali diri mereka sendiri, kurang mengerti tujuan dan mimpi mereka di perjalanan hidup. Remaja kita belum terbiasa merencanakan masa depan mereka. Para remaja yang melestarikan budaya ini sepertinya belum termotivasi, hingga melakukan kegiatan postif hanya sebagai rutinitas. Mungkin dari mereka masih pergi kesekolah, namun melakukan itu hanya sebatas rutinias saja, bukan sebagai rencana hidup untuk menuju kesuksesan. Tidak heran jika banyak siswa yang sepertinya belajar adalah beban dan penugasan orang tua.

Perencanaan hidup yang matang dan disertai langkah sistematis lagi konkret telah menempa banyak orang menjadi sukses, sebut saja Hingis yang mampu keluar sebagai juara tenis dunia di usianya yang baru menginjak 17 tahun. Pada saat usia yang sama, remaja kita masih sibuk dengan perayaan sweet seventeen mereka. Ironiskah?

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (QS  Al Mu’minuun, 23:1-3)

Jogja, 12 November 2011

Potensi dan Kemanfaatan

Posted: November 11, 2011 in Inspirasi
Tags: , , ,

          Renungkanlah kawan, apa yang menjadi tujuan hidup kalian? Apa parameter tercapainya tujuan hidup kalian?
Saya meyakini tiap-tiap dari kita terlahir dengan tujuan hidup yang sama, yakni sukses. Namun dengan cara dan bidang yang berbeda, karena memang definisi sukses dapat didekati dari segala aspek. Untuk mencapai kesukesesan tersebut, Allah telah membekali kita dengan berbagai potensi. Pernahkah kalian memahami potensi hebat kalian? Kita bisa menjadi inovator dan inspirator bagi yang lain, harusnya kita mampu menjadi ilmuwan sekaliber B.J.Habibie, penemu sehebat Eddison, penulis sekreatif Hamka, maupun olahragawan layaknya Hingis.

          Amatlah menyedihkan jika kita masih bertanya “Apa potensi saya”, harusnya kita beranjak pada pertanyaan “Mengapa saya di anugrahi potensi?“. Jawaban pertanyaan tersebut sangatlah menggelitik jika dicerna secara logis, bukan hanya membicarakan mengenai potensi individu, namun mengenai kemanfaatan kita bagi kemanusiaan. Jika kita tidak membawa manfaat di dunia ini, maka kita dapat dikatakan lebih rendah dari hewan seperti cacing dan lebah.Cacing mampu memberi manfaat kepada manusia, dengan potensinya meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, dan K di dalam tanah. Lubang bekas pemboran cacing mampu memperbaiki aerasi dan drainase di dalam tanah hingga tanah menjadi gembur.Sedangkan lebah memberi kemanfaatan bagi manusia dengan potensinya menghasilkan madu. “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16: 69)

     Lantas pertanyaan selanjutnya, apa yang akan kita hasilkan dalam hidup kita yang singkat ini?

          Kebanyakan dari kita seringkali terkendala terlalu pasrah terhadap takdir, hingga kita cenderung pasif dan menunggu umpan. Bukan berusaha berlari dan mendapatkannya. Ingatlah kawan pada sebenarnya takdir itu berada di ujung usaha. Untuk menemukan takdir kesuksesan, kita harus berusaha. Bagaimana bisa pandai jika tidak belajar. Orang bijak mengatakan, kita mendapatakan apa yang kita layak dapatkan berdasarkan usaha dan kerja keras kita. “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d, 13:11)

Jogja, 11 November 2011